Jumat, 27 Januari 2012

SEJARAH DAKWAH


I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Dalam mendalami sejarah dakwah islam maka sangatlah penting orang baik anak-anak maupun rang dewasa untuk mempelajarinya.
            Sejarah dakwah islam adalah suatu pembahasan yang membahas tentang dakwah islam didunia ini dan tentang sejarah-sejarah dalam islam. Sehingga sampai saat ini kita dapat ikut bmerasakan bagaiman indahnya islam.
Umat islam di indoneisa menempati jumlah terbanyak dibandingkan umat agama lain, olehkarena itu sebagian besar aturan perundangan mencerminkan nilai nilai keislaman. Dan juga sebagian besar pemimppin bangsa berasal dari agama islam. Tetapi ironisnya ketika melihat kondisi bangsa indonesia yang semakin lama semakin mempunyai banyak masalah dan malah dalam beberapa hal tertinggal oleh bangsa lain yang bukan islam..
Perkembangan dakwah islam indonesia di masa sekarang memang tidak lepas dari sejarah islam di indonesia sendiri, karena apa yang kita terima sekarang adalah estafeta ilmu dari generasi yang terdahulu, dan disini akan sedikit dibahasmengenai perkembangan dakwah islam di indonesia.






II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Dakwah Islam
Seiring perkembangan zaman dakwah islam pun mulai merambah berbagai media dan metode, tidak seperti dulu yang hanya penyebaran melalui mulut ke mulut sambil berdagang. Agama islam memang agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, karena wahyu yang pertama turun merupakan perintah untuk membaca, bukan hanya terbatas pada membaca tulisan saja tetapi membaca tanda tanda kebesaran allah di dunia.
Pada hakikatnya aktifitas dakwah merupakan hal yang fleksibel dan dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode dan direncanakan dengan tujuan mencari kebahagiaan hidup dengan dasar keridhaan Allah swt.
Dakwah adalah usaha peningkatan pemahanman keagamaan untuk mengubah pandangan hidup, sikap bathin dan perilaku umat yang tidak sesuai menjadi sesuai dengan tuntunan syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dai harus mempunyai pemahaman yang mendalam bukan saja menganggap bahwa dakwah dalam frame “amar ma’ruf nahi mungkar”, sekedar menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat, yakni mencari materi yang cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya. Secara konvensional, subjek dakwah terdiri dari dai (mubaligh) dan pengelola dakwah.
Padahal jika kita melihat sejarah perkembangan islam pada masa awal struktur masyarakat islam di nusantara pada abad 16/17 merupakan kesatuan dari tiga kekuatan, yaitu ekonomi yang berbasis pada perdagangan di pelabuhan, politik yang termanifestasi pada keraton atau kerajaan, dan agama sebagaimana teraktualisasi dalam pesantren di Jawa, dayah di aceh atau surau di Sumatera Barat dan pusat agama lainnya.
Pada awal perkembangannya saja agama islam tidak hanya mengandalkan peran seorang dai saja, tetapi di bidang lain pun bisa turut mempengaruhi perkembangan islam, sebagaimana yang kita lihat sekarang bahwa banyak lembaga yang mengajarkan agama islam, dan juga banyak majalah majalah yang bertemakan islam, film religi, dan hal hal lain yang baru muncul di masa sekarang.
Di jaman dulu juga banyak para sufi yangmenyebarkan agama islam, yang mempunyai ciri khusus yaitu mereka menyebarkan islam dengan dua cara.
Pertama, dengan membentuk kader, guru dan mubaligh, agar mampu mengajarkan islam dan menyebarkan islamdi daerah asalnya serta meneruskan jejak gurunya. Kedua, melalui karya karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat yang jauh diluar tempat tinggal mereka. Sebagaimana karya Hamzah Fansuri yang berisi uraian singkat tentang sifat sifat dan inti ilmu kalam menurut teologi islam.
Namun perlu diketahui bahwa proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.



1. Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a.       Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di
Indonesia.
b.      Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay –
Timur Tengah – Eropa.
c.       Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat. Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

2. Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
a.       Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
b.      Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. SedangkanGujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c.       Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

3. Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
a.       Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
b.      Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
c.       Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda- tanda bunyi Harakat.
d.      Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e.       Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
Proses masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia pada dasarnya dilakukan dengan jalan damai melalui beberapa jalur/saluran yaitu melalui perdagangan seperti yang dilakukan oleh pedagang Arab, Persia dan Gujarat. Pedagang tersebut berinteraksi/bergaul dengan masyarakat Indonesia. Pada kesempatan tersebut dipergunakan untuk menyebarkan ajaran Islam. Selanjutnya diantara pedagang tersebut ada yang terus menetap, atau mendirikan perkampungan, seperti pedagang Gujarat mendirikan perkampungan Pekojan. Dengan adanya perkampungan pedagang, maka interaksi semakin sering bahkan ada yang sampai menikah dengan wanita Indonesia, sehingga proses penyebaran Islam semakin cepat berkembang.
Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubaliqh yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.
Pondok pesantren adalah tempat para pemuda dari berbagai daerah dan kalangan masyarakat menimba ilmu agama Islam. Setelah tammat dari pondok tersebut, maka para pemuda menjadi juru dakwah untuk menyebarkan Islam di daerahnya masing- masing. Di samping penyebaran Islam melalui saluran yang telah dijelaskan di atas, Islam juga disebarkan melalui kesenian, misalnya melalui pertunjukkan seni gamelan ataupun wayang kulit. Dengan demikian Islam semakin cepat berkembang dan mudah diterima oleh rakyat Indonesia.
Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan walisongo atau wali Sembilan.














III
KESIMPULAN

Dari beberapa pemaparan diatas kita dapat mengetahui bahwa agama islam yang masuk ke indonesia dipengeruhioleh beberapa daerah seperti gujarat, mekah, dan persia, sehingga disinyalir islam datang dari sana. Dan dari beberapa pengaruh itu, agama islam mendapatkan pengaruh lagi dari kebudayaan indonesia sendiri yang dapat kita lihat dari metode yang digunakan para penyebar islam di berbagai wilayah indonesia, seperti di daerah jawa yang disebarkan oleh walisongo, dan di daerah lain yang terdapat kerajaan kerajaan islam.
Tetapi memang titik tumpu kekuatan masyarakat islam di indonesia sehingga dapat melangsungkan proses dakwahnya hingga masa kini adalah bertumpu pada tiga kekuatan yaitu ekonomi, politik, dan agama, karena ketiganya mempunyai aspek yang sangat penting yang saling membutuhkan dan tidak terpisahkan.










DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Taufik. Sejarah Umat Islam Indonesia.2003. Jakarta:MUI Hal: 61

Abdullah, Taufik. Sejarah Umat Islam Indonesia.2003. Jakarta:MUI Hal: 62-63

Munzier Suparta dan Harjani (Ed.), Metode Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2003), hlm. 6.

Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, 2005, Rajawali Press, hal. 8-9;

Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, 1998, cet. IV, Mizan, hal. 92-93;

A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia: Kumpulan prasaran pada seminar di Aceh, 1993, cet. 3, al-Ma'arif,

Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah. Jakarta: Rajawali. 1999 Hal :125

Uka Tjandrasasmita, (editor). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta : Depdikbud. 1984. Hal : 205

1 komentar: